little frog- asal muasal



Study di luar negeri, siapa yang membayangkan aku, seorang anak kampung dengan kemampuan biasa biasa saja, berada di luar negeri, bukan menjadi TKW, tetapi berstatus pelajar full scholarship.

Kenyataannya, disinilah aku. Menyandang gelar awardee LPDP (Indonesian Endowment Fund), candidate master of medicinal chemistry di Cardiff University, Welsh.  Ajaib memang. Entah seberapa sering ibu berdoa setiap malam sehingga aku bisa seberuntung ini.

Semua mimpi yang menjadi nyata itu berawal dari sebuah penolakan dari salah satu dosen dari universitas tempatku belajar selama undergraduate. Beliau menolak mentah-mentah memberikan sebuah rekomendasi untuk melanjutkan master ke IPB, Bogor. Beliau malah menyuruhku untuk pergi jauuuuuuuuuuuuh ke luar negeri untuk melanjutkan master jika masih mengharapkan rekomendasi beliau.

Kepercayaan diriku runtuh seketika. Tak pernah terbayang kalau beliau akan menolak mengingat keakraban kami. Saat itu yang terpikir hanyalah keluar dari ruangan beliau dan mencari dosen lain yang mungkin berkenan memberikanku sebuah rekomendasi.

Ditengah kebingungan akhirnya aku berpikir kembali. Merenungkan nasib akan jadi apa di masa depan.
Kuputuskan pulang. Berbincang dengan ibu, mengeluhkan kesah. Ibu sejatinya menyerahkan semua keputusannya padaku. Tergoda memang, siapa yang tidak ingin memiliki kesempatan keluar negeri, melihat sisi sisi bumi lain yang mungkin belum terjamah manusia. Tapi aku sadar, semua itu harus dibayar dengan harga yang mahal. Harga yang akan bisa membeli kesabaranku sebagai anak gadis kampung yang tumbuh bersama banyak ketabuan anak desa. Harga yang akan memisahkanku dengan ibu beberapa tahun, membiarkannya hidup sendiri selama beberapa waktu. dan yang paling mahal adalah harga konsistensi niat yang terjaga dalam semua ketidakpastian.

beberapa hari kemudian, aku memberanikan diri pergi ke PARE, salah satu tempat belajar bahasa inggris paling terkenal di Indonesia. entah nantinya aku akan memantapkan diri untuk lanjut kemana, yang jelas saat itu aku butuh mengupgrade kualifikasi inteligensiku. 

aku saat itu hanya anak kampung yang dulu saat sekolah membenci bahasa inggris, tetapi mau tidak mau aku harus punya nilai TOEFL untuk melamar beasiswa dan kampus, dalam maupun luar negeri. 

disanalah pikiran ku mulai terbuka tentang dunia. di tempat sekecil pare saja, aku bertemu dengan beragam orang dari wilayah dan kelakuan yang berbeda. meneguhkan semangat untuk melihat dunia. seperti kata Imam Syafii, kita disuruh untuk merantau, untuk mencari jati diri sebenarnya, bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Propoxyphene ( a withdrawal drugs)

catatan galau malam minggu