wanita dan pendidikan


wanita berpendidikan tinggi.
di beberapa daerah hal ini masih menjadi tabu.
sebagian berfikir untuk apa menyekolahkan anak wanita.
ujung-ujungnya pasti cuma kasur, dapur, sumur.

diskriminasi

itu  ada dan itu nyata.

ketika saya bilang kalau saya akan ke Inggris untuk melanjutkan sekolah, beberapa ada yang menyelamati, namun ada beberapa orang yang justru heran. untuk apa saya jauh-jauh pergi sekolah, mending nikah aja, stay at home, settle down.

beberapa juga bilang, gak takut susah jodoh nanti?
laki-laki akan takut mendekat kalau ceweknya sekolah tinggi.

lalu, idealnya wanita itu seperti apa?
apakah harus menjadi bodoh dan pasif?

apa tidak boleh kami menuntut sedikit ilmu?
bukan untuk menjadi lebih tinggi dari para pria
hanya ingin sekedar menjadi orang yang lebih bermanfaat.
even menjadi ibu rumah tangga butuh wanita berotak.
siapa yang nantinya akan mengajar dan mendidik sang anak?
menjadi akuntan pribadi?
penasehat keluarga?
koki?
pembantu rumah tangga? dan lain sebagainya

itu semua dilakukan oleh seorang wanita yang nantinya akan menjadi istri dan ibu
bukankah seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya?
lalu, jika sang madrasah tak berilmu, apa yang bisa dia ajarkan ke anaknya?
nasehat apa yang bisa dia berikan pada suaminya?
skill apa yang dia punya untuk membantu sang suami?

maaf, bukannya mau menjustify siapapun
tapi tolong buka hati buka pikiran
pendidikan pada wanita itu sama pentingnya dengan pendidikan lelaki
bukan untuk bersaing tapi untuk berdamping


final remark, populasi wanita lebih banyak dari pada populasi lelaki
jika mau melihat negaranya maju, otomatis para wanitanya juga harus maju
agar menjadi pribadi yang kreatif, dinamis, dan mandiri.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Propoxyphene ( a withdrawal drugs)

catatan galau malam minggu